Sore yang cerah. Secangkir
teh hangat masih melekat pada jari-jemariku.
Kuhirup aromanya yang khas. Harum.
Aku tersenyum melihat bunda yang sedang
sibuk menyirami tanaman di pekarangan rumah kami
yang sederhana.
Warna-warni mahkota bunga terlihat segar
berkilauan terkena tetes-tetesan air yang
terbias cahaya sang surya
di senja hari.
Aku menatap cangkir tehku
tadi. Isinya hanya tinggal seperempat gelas
lagi. Aku melihat bayangan mataku yang
terpantul di air teh. Mata ini, mata
yang mirip dengan kepunyaan
almarhum ayah. Dua tahun yang lalu,
ayah kembali ke sisi Sang Khalik.
Kini tinggallah bunda, aku, dan kakak
lelaki-ku, Kak Yusuf, yang sekarang sedang menyusun
skripsi. Kak Yusuf setiap harinya banting
tulang untuk menghidupi keluarga kami. Aku
sendiri terkadang tanpa sadar meneteskan
air mata melihat batapa
beratnya beban yang ditanggung olehnya. Sedangkan
bunda, semenjak ditinggal
ayah, beliau lebih
pendiam, mungkin bunda
depresi.
Ingatanku
melayang ke 1
tahun yang lalu.
Pagi itu, aku
berangkat ke sekolah
dengan tergesa-gesa. Aku
bahkan tak sempat
mencium tangan bunda
terlebih dahulu. Hari
itu adalah hari
yang menentukan aku
lulus SMP. Hatiku
tak henti-hentinya memanjatkan
doa semoga Allah
meluluskanku. Setibanya aku
di depan papan
pengumuman, aku berdesakkan
siswa dan siswi
lainnya agar mendapat
posisi tepat di
depan papan pengumuman.
Dan akhirnya, aku
bisa melewati kerumunan
remaja-remaja itu. Segera
aku geser jari
telunjukku dari atas
sampai ke bawahnya.
Jantungku tak ada
lelahnya memompa darahku
ke seluruh tubuh
dengan menggebu. Hingga
jariku terhenti sampai
barisan kedua dari
akhir. Alisa Sufia.
Ya, namaku tercantum
di situ. Aku
geser telunjukku ke
arah sebelah kanan
kertas, namun... tak
tertulis kata LULUS
di atasnya. Aku
lemas. Mataku terasa
panas. Tak lama
kemudian pandanganku mengabur.
Tetes demi tetes
air mata jatuh
ke pipiku. Sejenak,
potongan-potongan memori berputar
di otakku layaknya
potongan film.
Apa saja yang
aku lakukan selama
ini? Aku selalu
mendapat peringkat 3
besar di kelasku.
Aku juga sudah
beberapa kali mengharumkan
nama sekolah dan
provinsiku di berbagai
perlombaan dan olimpiade
tingkat Nasioal. Apa
yang salah denganku?
Bahkan 4 bulan
yang lalu aku
mengikuti kejuaraan karya
tulis di Singapur.
Apa salahku? Aku
rasa aku rasa
aku selalu berusaha
semaksimal mungkin ketika
akan menghadapi ujian.
Lalu aku teringat,
sesuatu yang berbanding
balik dengan apa
yang orang lain
lihat penampilanku. Sesuatu
yang selalu bisa
membuat aku merasa
senang di kala
aku sedih. Sesuatu
yang membuatku lebih
percaya diri dan
menganggap akulah yang
paling hebat.
Aku
menerobos kerumunan murid-murid.
Aku mencari seseorang.
Aku pergi ke
ruang kelasku yang
kosong. Di bangku
paling belakang, duduk
seorang remaja laki-laki
dengan kaki terangkat
ke atas meja.
Dia menatapku yang
masuk ke kelas.
Kakinya langsung diturunkan.
Kutatap matanya yang
sayu. Dia menaikkan
sebelah alisnya kepadaku.
“Ted, kamu tahu
‘kan aku kenapa?”
tanyaku. Tedi hanya
mengangguk.
“Sekarang
kamu tahu ‘kan
apa yang aku
perlu?” tanyaku lagi.
Tedi menghela napas panjang.
“Alisa.. Alisa,”
ia berjalan berputar
mengelilingiku, “nggak perlu kamu
tanya juga aku
ngerti.” Ia kemudian
merogoh kantong celananya.
Ia mengeluarkan sebuah
bungkusan kecil. Dalam
bungkusan itu terdapat
bubuk-bubuk putih yang
berkilauan di mataku.
Benda ini benar-benar
bisa menyembuhkan sedihku.
Aku merogoh kantong
bagian depan tasku.
Tapi aku tak
menemukan uang yang
aku cari. Kemudian
aku teringat uang Rp100.000 yang Kak
Yusuf berikan padaku
tadi. Kak Yusuf
memintaku untuk membeli
ikan sepulang sekolah
nanti. Tanpa pikir
panjang aku rogoh
kantong rokku. Dan kini
aku menggenggam selembar
rupiah bergambar Soekarno-Hatta. Aku
mengarahkan pandangan ke
seluruh penjuru kelas.
Aman. Aku rebut
bungkusan itu dari
tangan Tedi dan
dengan asal menyerahkan
lembaran Rp100.000,00.
Aku pun pulang
ke rumah. Tiba
di rumah, aku tidak melihat
bunda. Aku langsung
masuk ke kamar
dan mengunci pintu.
Aku buka bungkusan
kecil tadi dengan
tergesa, kuhirup baunya,
tak sabar aku
merasakan kenikmatan yang
begitu menggoda ini. Klek.
Bunyi suara pintu
kamar bunda terbuka,
kemudian tertutup lagi.
Bunda pulang, entah
dari mana. Kuletakkan
bungkusan tadi di
laci meja belajarku.
Aku pun masuk
ke kamar bunda.
Aku melihat bunda
terduduk di atas
ranjang. Matanya merah
seperti baru menangis.
Aku hampiri bunda.
Aku rangkul bahunya.
“Bunda kenapa?
Bunda sakit?” tanyaku
masih terus merangkul
bunda. Bunda hanya terdiam.
“Bun,” kini
aku mulai memijat
bahunya, “A-alisa nggak lulus UN, bun..” kataku
berhenti memijat bahu
bunda. Mataku terasa
panas lagi. Tenggorokanku
tercekat. Hidungku mulai
terasa aneh. Setetes
air mata yang
hangat menetes dari
ujung mataku. Aku
tertunduk. Tak berani
melihat bunda. Aku
sudah siap menerima
apa saja yang
akan bunda perbuat
padaku.
“Alisa
tahu bunda pasti
kecewa, bunda pasti
marah sama Alisa..”
aku menghela napas
panjang.
“Silahkan
bunda hukum Alisa!
Bunda boleh tampar
Alisa! Bunda boleh
libas Alisa! Bunda
boleh bentak Alisa!
Bunda boleh ngapain
aja asal bunda
hukum Alisa!” Tangisanku
pecah. Tanpa sadar
aku mengucapkan kalimat-kalimat itu
dengan nada tinggi.
Aku memandang bunda.
Hidung bunda memerah.
Ada setetes air
yang mengalir ke
puncak hidungnya. Bunda
masih tak bersuara.
“Alisa
tahu Alisa ini
bukan anak yang
bisa membanggakan bunda, Kak Yusuf, bahkan
Alm. Ayah! Alisa tahu
itu, bun! Karena
itu Alisa pantas
dihukum! Sekarang hukum
Alisa bun! Hukum Alisa!”
isakku. Bunda juga
mulai terisak. Bunda
berdiri dan memelukku
erat. Aku dapat
merasakan tetes demi
tetes air mata
yang hangat jatuh
ke bajuku. Bunda
menangis.
“Alisa nggak salah, kok, nak,” bunda
mulai mengeluarkan suara. “Semua
ini salah bunda.
Bunda tidak pernah
membimbing kamu. Setiap
hari bunda cuma
merenungkan hidup kita
tanpa berbuat apa-apa.
Ini semua salah bunda!
Bunda masih belum
ikhlas kita ditinggal
ayah. Bunda nggak
bisa berbuat apa-apa
sehingga Yusuf-lah satu-satunya
yang bisa menghidupi
kita. Bunda yang
salah, Lis.”
Air mataku semakin
mengalir deras. Aku
kecewa dengan diriku
sendiri. Rasanya aku
bahkan tidak mampu
memaafkan diriku sendiri.
Apa yang aku
lakukan selama ini
salah. Aku memang
termasuk murid yang
dibanggakan di sekolahku.
Orang-orang memandangku sebagai
anak baik-baik yang pintar,
rajin belajar, dan
selalu terlihat ceria.
Namun konflik batin
ini terus berkecamuk
di dalam pikiran dan
hatiku. Aku ini
seorang yatim yang
tak tahu diri.
Seharusnya aku mampu
melawan semua persoalan hidup
yang aku lalui
ini. Seharusnya aku ini
adalah yatim yang kuat! Namun
iblis
menyeretku ke jalan
yang penuh kegelapan.
Aku kehilangan arah
dan sempat menyalahkan
semua masalahku ini
pada Tuhan. Aku
marah dengan-Nya! Mengapa Dia
tak membawaku kembali
ke jalan-Nya? Mengapa
Dia tak merubah
nasibku? Mengapa semua
ini seolah tak
ada habisnya? Aku
lelah berjalan di
jalan gelap ini.
Aku ingin kembali
ke jalan-Nya. Namun
aku telah diliputi
oleh dosa yang
sangat-sangat berat. Aku
sendiri merasa tak
pantas untuk hidup di dunia
ini!
Aku
melepas pelukan bunda
perlahan. Aku tinggalkan
bunda yang masih
terisak sambil mendekap
mulutnya dengan sebelah
telapak tangan. Aku
kembali ke kamarku.
......................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar